BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah
Filsafat
dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari segala sesuatu yang ada secara
mendalam. sehingga dengan adanya filsafat kita akan tahu akar-akar dari
berbagai macam ilmu lainnya dan juga dasar dari segala yang ada. Filsafat
dibagi menjadi bebrapa cabang ilmi, salah satunya yaitu filsafat pendidikan.
Filsafat sendiri dimengerti sebagai bentuk ilmu yang mengkaji mengenai
dasar-dasar pendidikan yang menitikberatkan pada pendekatan-pendekatan filsafat
sehingga akan menghasilkan teori-toeri kependidikan yang berguna pada
masalah-masalah kependidikan itu sendiri.
Manusia
mahluk hidup ciptaan Tuhan yang paling sempurna di jagad raya, dengan alam
pikirannya dia dapat mengembangkan segala sesuatu yang diinginkan, segala
sesuatu yang diinginkan, segala cara dia lakukan untuk mencapai hasil
semaksimal mungkin. Tuhan menciptakan manusia yang bagaimana (keberadaan
seperti apa manusia berada), apakah cara berada manusia sama halnya dengan cara
berada makhluk lain "benda-benda". Jawabannya tentu beraneka ragam
dan berbeda pendapat yang mempunyai alasan-alasan tersendiri dalam memperkuat
filsafatnya. Hal itu terjadi apabila cara manusia berada di dunia ini
(eksistensi) berbeda,seperti halnya: eksistensialisme, materialisme. Dalam
filsafatnya tentang keberadaan manusia di dunia.
Dalam
filsafat pendidikan terdapat berbagai aliran filsafat yang merupakan terapan
dari filsafat umum lain.
B. Rumusan Masalah
Adapun
Masalah yang akan di bahas di dalam makalah ini,
menyangkut beberapa hal, antara lain :
1.
Apa pengertian essensialisme?
2.
Apa pengertian perenialisme?
3.
Apa pengertian progetitisme?
4.
Apa pengertian eksistensialisme?
5.
Apa pengertian rekontruksi?
6.
Apa yang dimaksud pedagogi kritis?
7.
Apa yang dimaksud pendidikan sebagai ilmu?
8.
Apa yang dimaksud pendidikan sebagai objek kajian?
9.
Apa yang dimaksud teori kontruksi dan reformasi
pendidikan?
C. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah diatas, dapat
disimpulkan tujuan dari makalah ini sebagai berikut:
1.
untuk mendeskripsikan maksud esensialisme.
2.
untuk mengetahui pengertian dari perenialisme.
3.
untuk mengetahui progetisme.
4.
untuk mengetahui pengertian eksistentialisme.
5.
untuk mengatahui pengertian rekontruksi.
6.
untuk mengetahui pengertian pedagogi kritis.
7.
untuk mengetahui pendidikan sebagai disiplin ilmu.
8.
untuk mengetahui pendidikan sebagai objek kajian.
9.
untuk mengatahui teori kontruksi dan reformasi
pendidikan.
BAB
II
PEMBAHASAN
1.
ESENSIALISME
Aliran
esensialisme merupakan aliran pendidikan yang didasarkan pada nilai-nilai
kebudayaan yang telah ada sejak awal peradaban umat manusia (jallaludin dan
Abdullah,2011: 95). Esensialisme merupakan mazhab filsafat pendidikan yang
menerapkan prinsip idelisme dan realisme secara eklektis. Berdasarkan eklektis
tersebut maka esensialisme tersebut menitikberatkan penerapan prinsip idealisme
atau realisme dengan tidak meleburkan
prinsip-prinsipnya. Filsafat idealisme memberikan dasar tinjauan
filosofis bagi mata pelajaran sejarah, sedangkan ilmu pengetahuan alam
diajarkan berdasarkan tinjauan yang realistik. Matematika yang sangat
diutamakan idealisme, juga penting artinya bagi filsafat realisme, karena
matematika adalah alat penghitung penjumlahan dari apa-apa yang riil, materiil,
dan nyata.
Mazhab
esensialisme mulai lebih dominan di Eropa sejak adanya semacam pertentangan di
antara para pendidik sehingga mulai timbul timbul pemisahan antara
pelajaran-pelajaran teoretik (liberal arts) yang memerdekakan akal dengan
pelajaran-pelajaran praktek. Menurut mazhab esensialisme, ysng termasuk the
liberal arts,yaitu:
·
Penguasaan bahasa termasuk retorika
·
Gramatika
·
Kesusastraan
·
Filsafat
·
Ilmu kealaman
·
Matematika
·
Sejarah
·
Seni keindahan
Dan untuk sekolah berintikan
tiga keterampilan dasar yaitu menulis, membaca dan berhitung. Hegel
mengemukakan adanya sintesis antara ilmu pengetahuan dan agama menjadi suatu
pemahaman yang menggunakan landasan spiritual.
2.
PERENIALISME
Ada persamaan antara
perenialisme dan esensialisme, yakni kesuanya membela kurikulum tradisional
yang bperberpusat pada mata pelajaran yang pokok-pokok. Perbedaannya,
ialahperenialisme menekankan keabadian teori kehikmatan, yaitu:
Pengetahuan yang
benar
Keindahan
Kecintaan kepada
kebaikan
Oleh karena itu,
dinamakan perenialisme karena kurikulumya berisi materi yang konstan atau
perennial. Prinsip pendidikan antara lain:
1. Konsep
pendidikan itu bersifat abadi, karena hakikat manusia tak pernah berubah
2. Inti
pendidikan haruslah mengembangkan kekhususan mahluk manusia yang unik, yaitu
kemapuan berfikir.
3. Tujuan
belajar ialah mengenal kebenaran abadi dan universal.
4. Pendidikan
merupakan persiapan bagi kehidupan sebenarnya
5. Kebenaran
abadi itu diajarkan melalui pelajaran-pelajaran dasar.
Mazhab
perenialisme memiliki penganut pada perguruan swasta di Indonesia, karena
mengintegrasikan kebenaran agama dengan kebenaran ilmu. Karena kebenaran itu
satu, maka ada satu system pendidikan yang berlaku umum dan terbuka kepada
umum. Juga sebaiknya kurikulum bersifat wajib dan berlaku umum, yang harus
mencakup
1. Bahasa
2. Matematika
3. Logika
4. Ilmu
pengetahuan alam
5. Sejarah
3.
PROGRESIVISME
Manusia akan
mengalami perkembangan apabila berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya
berdasarkan pemikiran. Sekolah adalah lingkungan khusus yang merupakan
sambungan dari lingkungan social yang lebih umu. Sekolah merupakan lembaga
masyarakat yang bertugas memilih dan menyederhanakan unsure kebudayaan yang
dibutuhkan oleh individu, belajar harus dilakukan oleh siswa secara aktif
dengan cara memecahkan masalah.guru harus bertindak sebagai pembimbing dan
fasilitator bagi siswa.
Progesivisme atau
gerakan pendidikan progresif mengembangkan teori pendidikan yang mendasrkan
diri pada beberapa prinsip, antara lain sebagai berikut:
·
Anak harus bebas untuk dapat berkembang
secara wajar
·
Pengalaman langsung merupakan cara terbaik
untuk merangsang minat belajar.
·
Guru harus menjadi seorang peneliti dan
pembimbing kegiatan belajar.
·
Sekolah progresif harus merupakan suatu
laboratorium untuk melakukan reformasi pedagogis dan eksperimentasi.
Dengan
belajar anak bertumbuh dan berkemabng secara utuh. Karena itu, sekolah tidak mengajar
anak melainkan melaksanakan pendidikan. Pendidikan adalah untuk hidup sepanjang
hayat. Orang dapat belajar dari hidupnya, bahkan kehidupan itu pendidikan bagi
setiap orang.
4.
EKSISTENTIALISME
Eksistensialisme adalah aliran filsafat yang pahamnya berpusat pada manusia individu yang bertanggung
jawab atas kemauannya yang bebas tanpa memikirkan secara mendalam mana yang
benar dan mana yang tidak benar. Sebenarnya bukannya tidak mengetahui mana yang
benar dan mana yang tidak benar, tetapi seorang eksistensialis sadar bahwa
kebenaran bersifat relatif, dan karenanya masing-masing individu bebas
menentukan sesuatu yang menurutnya benar.
Teori
pengetahuan eksistensialisme banyak dipengaruhi oleh filsafat fenomologi,suatu
pandangan yang mengambarkan penampakan benda-benda dan peristiwa-peristiwa
sebagaimana banda-benda tersebut menampakkan dirinya terhadap kesadaran
manusia. Pengetahuan manusia tergantung pada pemahamannya tentang realitas,
tergantung pada interpretasi manusia terhadap realitas. Pengetahuan yang
diberikan disekolah bukanlah sebagai alat untuk memperoleh pekerjaan atau karir
anak, melainkan dapat
dijadikan alat perkembangan dan alat pemenuhan diri (Usiono:2006:137).
Eksistensialisme
adalah salah satu aliran besar dalam filsafat, khususnya tradisi filsafat
Barat. Eksistensialisme mempersoalkan keber-Ada-an manusia, dan keber-Ada-an
itu dihadirkan lewat kebebasan. Pertanyaan utama yang berhubungan dengan
eksistensialisme adalah melulu soal kebebasan
Namun, menjadi eksistensialis, bukan
melulu harus menjadi seorang yang beda-daripada-yang-lain, sadar bahwa
keberadaan dunia merupakan sesuatu yang berada di luar kendali manusia, tetapi
bukan membuat sesuatu yang unik ataupun yang baru yang menjadi esensi dari
eksistensialisme. Membuat sebuah pilihan atas dasar keinginan sendiri, dan
sadar akan tanggung jawabnya pada masa depan adalah inti dari eksistensialisme.
Sebagai contoh, mau tidak mau kita akan terjun ke berbagai profesi seperti
dokter, desainer, insinyur, pebisnis dan sebagainya, tetapi yang dipersoalkan
oleh eksistensialisme adalah, apakah kita menjadi dokter atas keinginan orang
tua, atau keinginan sendiri.
Kaum eksistensialis menyarankan kita
untuk membiarkan apa pun yang akan kita kaji, baik itu benda, perasaaan,
pikiran, atau bahkan eksistensi manusia itu sendiri untuk menampakkan dirinya
pada kita. Hal ini dapat dilakukan dengan membuka diri terhadap pengalaman,
dengan menerimanya, walaupun tidak sesuai dengan filsafat, teori, atau
keyakinan kita.[1
5.
REKONTRUKSIONALISME
Kata rekontruksi
berasal dari bahasa inggris rekontruct, yang berarti menyusun kembali. Dalam
konteks filsafat pendidikan aliran rekontruksionisme merupakan aliran yang
berusaha merombak tata susunan kehidupan lama dengan membangun tata susunan
hidup kebudayaan modern . aliran rekontruksionalisme pada prinsipnya sepaham
dengan aliran prenenialisme, yaotu berawal dari krisis kebudayaan modern.
Menurut Muhammad noer dalam jallaludin
dan Abdullah (2011:116) kedua aliran tersebut memandang bahwa keadaan sekarang
merupakan zaman yang mempunyai kebudayaan yang terganggu oleh kehancuran,
kebingungan, dan kesimpangsiuran.
Meskipun demikian,
prinsip yang dimiliki oleh aliran ini tidaklah sma dengan prinsip yang dipegang
oleh aliran perenialisme. Keduanya memiliki visi dan cara yang berbeda dalam
pemecahan yang akan ditempuh untuk mengembalikan kebudayaan yang serasi dalam
kehidupan. Aliran prenenialisme memiliki cara tersendiri, yakni dengan kembali
kealam kebudayaan lama yang mereka anggap paling ideal. Sementara itu, aliran
rekontruksionalisme menempuhnya dengan jalan berupaya membina suatu consensus
yang paling luas dan mengenai tujuan pokok dan tertiggi dalam kehidupan manusia.
Untuk mencapai tujuan
tersebut, rekontrusionalsime berupaya mencari kesepakatan antar sesama manusia
agar dapat mengatur tata kehidupan manusia dalam suatu tatanan dan seluruh
lingkungannya. Aliran rekontruksionalisme berkeyakinan bahwa tugas penyelamatan
dunia merupakan tugas seluruh umat manusia. Karenanya, pembinaan kembali daya
intelektual dan spiritual yeang sehat melalui pendidikan yang tepat akan
membina kembali manusia dengan nilai dan norma yang benar pula demi generasi
sekarang dan masa yang akn dating, sehingga terbentuk dunia baru dalam
pengawasan umat manusia.
Mazhab rekontruksionalisme adalah suatu
kelanjutan yang logis dari cara berfikir progresif dalam pendidikan. Individu
tidak hanya belajar tentang pengalaman dalam masyarakat masa kini di sekolah
tetapi haruslah memelopori maarakat
kearah masyarakat yang diinginkan. Dengan demikian, tidak setiap individu dan
kelompok akan memecahkan masalah kemasyarakatan secara sendiri-sendiri sebagai
ekses progresivisme.
Oleh karena itu,
sekolah perlu mengembangkan ideology kemasyarakatan yang demokratis. Keunikan
mazhab ini ialah teorinya menganl peranan guru, yakni sebagai pemimpin dalam
metode proyek yang memberi kepada anak cukup besar dalam proses pendidikan.
Namun sebagai pemimpin penelitian, guru dituntut supaya menguasai sejumlah
pengetahuan dan ilmu esensial demi keterarahnya pertumbuhan muridnya.
6.
PEDAGOGI
KRITIS
Pedagogi kritis dipahami sebagai teori dan praktik pendidikan yang
didesain untuk membangun kesadaran kritis peserta didik. Pedagogi kritis muncul
sebagai bentuk perlawanan akan praksis pendidikan yang telah didominasi oleh
kekuasaan. Sehingga pendidikan telah direduksi hakikatnya. Pedagogi kritis pada
dasarnya dapat dipahami dalam dua makna. Pertama, pedagogi kritis sebagai
paradigma berpikir. Dalam hal ini pedagogi kritis dibangun atas dasar critical
thingking untuk selalu mempertanyakan dan mengkritisi pendidikan itu sendiri
dalam hal-hal fundamental tentang pendidikan baik dalam tataran filosofis,
teori, sistem, kebijakan maupun implementasi. Kedua, pedagogi kritis sebagai
gerakan sosial.
Tujuan akhir pedagogi kritis adalah melahirkan praksis pendidikan
yang egaliter, humanis, demokratis berbasisikan critical thingking di kalangan
peserta didiknya. Gerakan sosial yang diusung pedagogi kritis adalah membongkar
praktik pendidikan yang membelenggu dan dilakukan kalangan status quo. Pedagogi
kritis pada dasarnya muncul karena adanya situasi sosial yang kemudian
mempengaruhi praksis pendidikan. Pedagogi kritis berpandangan bahwa pendidikan
harus dikembalikan pada hakikatnya, yakni mengembangkan potensi kemanusiaan
peserta didik. Sehingga pendidikan tidak dapat diselenggarakan hanya untuk
memenuhi kepala peserta didik dengan pengetahuan yang tanpa makna.
Salah satu tokoh yang memberi pengaruh besar bagi perkembangan
pedagogi kritis adalah Paulo Freire. Paulo Freire menghabiskan masa kecilnya
dalam lingkungan masyarakat yang miskin dan akrab dengan kelaparan, di daerah
Recife Brazil. Latar belakang kehidupannya inilah yang kemudian mempengaruhi
pemikirannya terhadap penyelenggaraan pendidikan bagi golongan menengah ke
bawah. Melalui pedagogi kritis Freire mengingatkan mengenai hakikat dari
pendidikan itu sendiri, yang merupakan upaya memanusiakan manusia. Sehingga
melalui pendidikan diharapkan manusia dapat berperan dalam dinamika kehidupan.
Freire mengkritik praksis pendidikan yang tidak sesuai esensi pada
saat itu, ia menyebut praksis pendidikan yang dijalankan sebagai, “pendidikan
gaya bank”. Hal tersebut bermaksud bahwa kepala peserta didik diibaratkan
seperti rekening bank yang siap diisi oleh koin-koin pengetahuan dari guru.
Pendidikan diselenggarakan secara konvensional, sehingga kebenaran dari
pengetahuan itu hanya ada pada guru. Freire memahami hal tersebut sebagai
bentuk penindasan. Karena tidak akan berkembang potensi manusia, jika dalam
proses pembelajaran bersifat pasif. Dalam konsep pendidikan gaya bank,
pengetahuan merupakan sebuah anugrah yang dihibahkan oleh menganggap diri
mereka berpengetahuan kepada mereka yang dianggap tidak berpengetahuan. Gaya
bank ini mengingkari pendidikan dan pengetahuan sebagai proses
pencarian. Bagi Freire, pendidikan merupakan sebuah upaya yang
memungkinkan seseorang mengubah dinamika sosialnya. Pendidikan sebagai pintu
pembuka bagi pengetahuan yang esensi. Bagi Freire, seseorang yang belajar harus
mampu membangun kesadaran kritisnya. Kesadaran kritis untuk peka terhadap
dinamika masyarakatnya dan dengan pengetahuannya membawa perubahan bagi
masyarakat.
Dalam hal ini, Freire membagi kesadaran dalam tiga tahapan, yakni:
kesadaran magis, kesadaran naïf dan kesadaran kritis. Kesadaran magis dipahami
Freire sebagai kesadaran yang didasarkan pada nilai-nilai agama. Dalam memahami
apa yang terjadi, manusia menggunakan penilaian berdasarkan agama. Sehingga
apabila terdapat masalah dalam dinamika kehidupan, maka penyelesaiannya
dilakukan dengan melaksanakan ritual agama. Namun, pada akhirnya ritual agama
ini bergeser menjadi tradisi. Kemudian kesadaran naïf,
dipahami bahwa seseorang telah menyadari bahwa dirinya dalam keadaan tertindas
atau dalam ketidaknyamanan dan telah mampu melakukan pengajuan namun, pengajuan
ini belum sepenuhnya didasarkan pada apa yang sungguh-sungguh dialaminya.
Sedangkan kesadaran kritis, merupakan kesadaran yang dimiliki seseorang atau
masyarakat bahwa dirinya berada dalam posisi yang tidak menyenangkan dan mampu
membentuk kondisi yang memungkinkannya melakukan perubahan atas ketidaknyamanan
tersebut. Dalam pengertian lain, kesadaran kritis merupakan kesadaran untuk
merubah realitas.
Untuk mencapai kesadaran kritis maka, Freire menyadarkan
penyelenggaraan pendidikan pada pembukaan realitas masyarakat yang terjadi
sesungguhnya, kemudian mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan dari masyarakat.
Freire menyebut konsep penyelenggaraan pendidikan tersebut sebagai
hadap-masalah. Sehingga seseorang yang telah belajar akan mampu memahami
realitas sosialnya secara kritis dan dengan pengetahuan yang mendasar tersebut
diharapkan akan mampu terbentuk solusi untuk memperbaiki dinamika masyarakat
agar lebih berdaya.
Dengan demikian dipahami bahwa
penyelenggaraan pendidikan tidak dapat lepas dari dinamika
masyarakat, karena secara hakikat pedagogi kritis meMandang sekolah
sebagai lembaga lembaga sosial yang memiliki fungsi dalam dinamika masyarakat. Sekolah
dipahami sebagai bentukan masyarakat yang berfungsi dalam mentransformasikan
pengetahuan dan kebudayaan pada peseta didik. Sehingga apa yang dipelajari oleh
peserta didik tidak terlepas dari pengembangan dinamika masyarakatnya.
7.
PENDIDIKAN
SEBAGAI DISIPLIN ILMU
Suatu kawasan studi dapat tampil sebagai disiplin
ilmu, bila memenuhi syarat-syarat :
a. Memiliki objek studi
(formal dan material)
Objek material ilmu pendidikan adalah perilaku
manusia. Objek formalnya adalah menelaah fenomena pendidikan dalam perspektif
yang luas dan integrative.
b. Memiliki sistematika
Sistematika ilmu pendidikan dibedakan menjadi 3 bagian
yaitu,
1.
Pendidikan sebagai gejala manusiawi, dapat
dianalisis yaitu adanya komponen pendidikan yang saling berinteraksi dalam
suatu rangkaian keseluruhan untuk mencapai tujuan.
Komponen pendidikan itu adalah :
(a)
tujuan pendidikan,
(b)
peserta didik,
(c) pendidik,
(d) isi pendidikan,
(e) metode pendidikan,
(f) alat pendidikan,
(g) lingkungan pendidikan.
2.
Pendidikan sebagai upaya sadar untuk mengembangkan
kepribadian dan kemampuan manusia. Menurut Noeng Muhadjir sistematika ini
bertolak dari fungsi pendidikan, yaitu :
(a) menumbuhkan kreatifitas peserta didik,
(b) menjaga lestarinya nilai insani dan nilai
ilahi,
(c) menyiapkan tenaga produktif.
3.
Pendidikan sebagai gejala manusiawi. Menurut
Mochtar Buchori ilmu pendidikan mempunyai 3 dimensi :
(1) dimensi lingkungan pendidikan,
(2) dimensi jenis-jenis persoalan pendidikan,
(3) dimensi waktu dan ruang.
c. Memiliki metode
Memliki metode-metode dalam ilmu pendidikan :
- Metode
normative, berkenaan dengan konsep manusiawi yang diidealkan yang ingin dicapai.
- Metode
eksplanatori, berkenaan dengan pertanyaan kondisi, dan kekauatan apa yang
membuat suatu proses pendidikan berhasil.
- Metode
teknologis, berkenaan dengan bagaimana melakukannya dalam rangka mencapai
tujuan yang diinginkan.
- Metode
deskriptif, fenomenologis mencoba menguraikan kenyataan-kenyataan
pendidikan dan lalu mengklasifikasikannya.
- Metode
hermeneutis, untuk memahami kenyataan pendidikan yang konkrit dan historis
untuk menjelaskan makna dan struktur dan kegiatan pendidikan.
- Metode
analisis kritis, menganalisis secara kritis tentang istilah, pernyataan,
konsep, dan teori yang ada dalam pendidikan.
8.
PENDIDIKAN
SEBAGAI OBJEK KAJIAN
Kajian dalam bidang filsafat
pendidikan mencakup berbagai aspek yang juga menjadi karakteristik kajian
filsafat pada umumnya yang meliputi semua realitas yang wujud maupun yang mumkin al-wujud. Hanya saja,
dalam konteks filsafat pendidikan lebih menekankan pada upaya perenungan yang
utuh dan terpadu dapat ditemukan kebenaran-kebenaran dan kebijakan-kebijakan
yang berguna bagi kemajuan dunia kependidikan itu sendiri. Realitas
kependidikan terkait dengan upaya-upaya sistematis dan terprogram untuk
menjadikan subjek-subjek didiknya menjadi manusia idaman sebagaimana yang
diinginkan. Spirit pendidikan di sini berada pada aktivitas pembelajaran.
Kondisi ini meniscayakan filsafat pendidikan pun tentu juga akan
mengonsentrasikan dirinya untuk menganalisis berbagai kemungkinan langkah yang
dapat ditempuh oleh semua subjek yang terkait agar segala yang diupayakannya
benar-benar efektif dan efisien untuk merealisasikan tujuan-tujuan yang
diinginkan.
Berdasarkan itu semua, maka
realitas-ralitas kependidikan yang menjadi objek kajian filsafat pendidikan
antara lain menyangkut hal-hal yang berkenaan dengan :
1. Hakikat manusia ideal
sebagai acuan pokok bagi pengembangan dan penyempurnaan
2. Pendidikan dan
nilai-nilai yang dianut sebagai suatu landasan berpikir dan berbuat dalam
tatanan hidup suatu masyarakat
3. Hakikat tujuan
kependidikan sebagai arah bangunpengembangan pola dunia kependidikan.
4. Hakikat pendidik dan anak
didik sebagai subjek-subjek yang terlihat langsung dalam pelaksanaan proses
edukasi.
5. Hakikat pengetahuan dan
nilai sebagai aspek penting yang dikembangkan dalam aktivitas pendidikan.
9.
TEORI
KONTRUKSI DAN REFORMASI PENDIDIKAN
Reformasi
secara etimologi yang berasal dari kata formasi, yang berarti susunan atau
bentuk susunan instansi. Pendidikan yaitu pengetahuan tentang mendidik.
Nasional yaitu yang berkenaan dengan bangsa sendiri. Reformasi berarti perubahan radikal untuk
perbaikan dalam bidang social, politik atau agama dalam suatu masyarakat atau
negara. Pendidikan nasional adalah pendidikan yang beradasarkan pada peraturan
negara tersebut, misalkan di negara Indonesia berarti pendidikan nasional
Indonesia adalah pendidikan yang berdasarkan pada pancasila dan Undang-Undang
Dasar Republik Indonesia tahun 1945. Jadi reformasi pendidikan nasional adalah
perubahan radikal yang ada dalam suatu instansi pendidikan yang
berada dalam naungan suatu negara kebangsaan
Reformasi
pendidikan adalah upaya perbaikan pada bidang pendidikan. Reformasi pendidikan
memiliki dua karakteristik dasar yaitu terprogram dan sistemik. Reformsi
pendidikan yang terprogram menunjuk pada kurikulum atau program suatu institusi
pendidikan. Yang termasuk kedalam reformasi terprogram ini aadalah inovasi.
Inovasi adalah memperkenalkan ide baru, metode baru atau sarana baru untuk
meningkatkan beberapa aspek dalam proses pendidikan agar terjadi perubahan
secara kontras dari sebelumnya dengan maksud-maksud tertentu yang ditetapkan.
Sedangkan
reformasi sistemik berkaitan dengan adanya hubungan kewenangan dan distribusi
serta alokasi sumber daya yang mengontrol sistem pendidikan secara keseluruhan.
Hal ini sering kali terjadi di luar sekolah dan berada pada kekuatan social dan
politik. Karakteristik reformasi sistemik ini sulit sekali diwujudkan karena
menyangkut struktur
kekuasaan yang ada.
Sementara
itu kebijakan adalah suatu ucapan atau tulisan yang memberikan petunjuk umum
tentang penetapan ruang lingkup yang memberi batas dan arah umum kepada manajer
untuk bergerak. Kebijakan juga berarti suatu keputusan yang luas untuk menjadi
patokan dasar bagi pelaksanaan manajemen. Kebijjakan adalah keputusan yang
dipikirkan secara matang dan hati-hati oleh pengambil keputusan puncak. Dengan
demikian reformasi kebijakan pendidikan adalah upaya perbaikan dalam tataran
konsep pendidikan, perundang-undangan, peraturan dan pelaksanaan pendidikan
serta menghilangkan praktek-praktek pendidikan dimasa lalu yang tidak sesuai
atau kurang baik sehingga segala aspek pendidikan dimasa mendatang menjadi
lebih baik.
DAFTAR
PUSTAKA
Usiono, M.A.2006.Pengantar Filsafat pendidikan. Jakarta:Hijri
Pustaka.
Tirtarahardja, Umar. La Sulo.2005.Pengantar
Pendidikan.Jakarta:Rineka Cipta.
Jalaluddin.,Abdullah Idi.2011.Filsafat
Pendidikan.Jakarta:PT Rajagrafindo
Persada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar