Senin, 19 Oktober 2015

filsafat pendidikan

BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang Masalah
            Filsafat dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari segala sesuatu yang ada secara mendalam. sehingga dengan adanya filsafat kita akan tahu akar-akar dari berbagai macam ilmu lainnya dan juga dasar dari segala yang ada. Filsafat dibagi menjadi bebrapa cabang ilmi, salah satunya yaitu filsafat pendidikan. Filsafat sendiri dimengerti sebagai bentuk ilmu yang mengkaji mengenai dasar-dasar pendidikan yang menitikberatkan pada pendekatan-pendekatan filsafat sehingga akan menghasilkan teori-toeri kependidikan yang berguna pada masalah-masalah kependidikan itu sendiri.
            Manusia mahluk hidup ciptaan Tuhan yang paling sempurna di jagad raya, dengan alam pikirannya dia dapat mengembangkan segala sesuatu yang diinginkan, segala sesuatu yang diinginkan, segala cara dia lakukan untuk mencapai hasil semaksimal mungkin. Tuhan menciptakan manusia yang bagaimana (keberadaan seperti apa manusia berada), apakah cara berada manusia sama halnya dengan cara berada makhluk lain "benda-benda". Jawabannya tentu beraneka ragam dan berbeda pendapat yang mempunyai alasan-alasan tersendiri dalam memperkuat filsafatnya. Hal itu terjadi apabila cara manusia berada di dunia ini (eksistensi) berbeda,seperti halnya: eksistensialisme, materialisme. Dalam filsafatnya tentang keberadaan manusia di dunia.
            Dalam filsafat pendidikan terdapat berbagai aliran filsafat yang merupakan terapan dari filsafat umum lain.

B.     Rumusan Masalah
            Adapun Masalah yang akan di bahas di dalam makalah ini, menyangkut beberapa hal, antara lain :
1.    Apa pengertian essensialisme?
2.    Apa pengertian perenialisme?
3.    Apa pengertian progetitisme?
4.    Apa pengertian eksistensialisme?
5.    Apa pengertian rekontruksi?
6.    Apa yang dimaksud pedagogi kritis?
7.    Apa yang dimaksud pendidikan sebagai ilmu?
8.    Apa yang dimaksud pendidikan sebagai objek kajian?
9.    Apa yang dimaksud teori kontruksi dan reformasi pendidikan?

C.  Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah diatas, dapat disimpulkan tujuan dari makalah ini sebagai berikut:
1.    untuk mendeskripsikan maksud esensialisme.
2.    untuk mengetahui pengertian dari perenialisme.
3.    untuk mengetahui progetisme.
4.    untuk mengetahui pengertian eksistentialisme.
5.    untuk mengatahui pengertian rekontruksi.
6.    untuk mengetahui pengertian pedagogi kritis.
7.    untuk mengetahui pendidikan sebagai disiplin ilmu.
8.    untuk mengetahui pendidikan sebagai objek kajian.
9.    untuk mengatahui teori kontruksi dan reformasi pendidikan.





BAB II
PEMBAHASAN

1.    ESENSIALISME
Aliran esensialisme merupakan aliran pendidikan yang didasarkan pada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak awal peradaban umat manusia (jallaludin dan Abdullah,2011: 95). Esensialisme merupakan mazhab filsafat pendidikan yang menerapkan prinsip idelisme dan realisme secara eklektis. Berdasarkan eklektis tersebut maka esensialisme tersebut menitikberatkan penerapan prinsip idealisme atau realisme dengan tidak meleburkan  prinsip-prinsipnya. Filsafat idealisme memberikan dasar tinjauan filosofis bagi mata pelajaran sejarah, sedangkan ilmu pengetahuan alam diajarkan berdasarkan tinjauan yang realistik. Matematika yang sangat diutamakan idealisme, juga penting artinya bagi filsafat realisme, karena matematika adalah alat penghitung penjumlahan dari apa-apa yang riil, materiil, dan nyata.
Mazhab esensialisme mulai lebih dominan di Eropa sejak adanya semacam pertentangan di antara para pendidik sehingga mulai timbul timbul pemisahan antara pelajaran-pelajaran teoretik (liberal arts) yang memerdekakan akal dengan pelajaran-pelajaran praktek. Menurut mazhab esensialisme, ysng termasuk the liberal arts,yaitu:
·         Penguasaan bahasa termasuk retorika
·         Gramatika
·         Kesusastraan
·         Filsafat
·         Ilmu kealaman
·         Matematika
·         Sejarah
·         Seni keindahan
Dan untuk sekolah berintikan tiga keterampilan dasar yaitu menulis, membaca dan berhitung. Hegel mengemukakan adanya sintesis antara ilmu pengetahuan dan agama menjadi suatu pemahaman yang menggunakan landasan spiritual.

2.     PERENIALISME
Ada persamaan antara perenialisme dan esensialisme, yakni kesuanya membela kurikulum tradisional yang bperberpusat pada mata pelajaran yang pokok-pokok. Perbedaannya, ialahperenialisme menekankan keabadian teori kehikmatan, yaitu:
Pengetahuan yang benar
Keindahan
Kecintaan kepada kebaikan
Oleh karena itu, dinamakan perenialisme karena kurikulumya berisi materi yang konstan atau perennial. Prinsip pendidikan antara lain:
1.    Konsep pendidikan itu bersifat abadi, karena hakikat manusia tak pernah berubah
2.    Inti pendidikan haruslah mengembangkan kekhususan mahluk manusia yang unik, yaitu kemapuan berfikir.
3.    Tujuan belajar ialah mengenal kebenaran abadi dan universal.
4.    Pendidikan merupakan persiapan bagi kehidupan sebenarnya
5.    Kebenaran abadi itu diajarkan melalui pelajaran-pelajaran dasar.
Mazhab perenialisme memiliki penganut pada perguruan swasta di Indonesia, karena mengintegrasikan kebenaran agama dengan kebenaran ilmu. Karena kebenaran itu satu, maka ada satu system pendidikan yang berlaku umum dan terbuka kepada umum. Juga sebaiknya kurikulum bersifat wajib dan berlaku umum, yang harus mencakup
1.    Bahasa
2.     Matematika
3.    Logika
4.    Ilmu pengetahuan alam
5.    Sejarah

3.    PROGRESIVISME
Manusia akan mengalami perkembangan apabila berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya berdasarkan pemikiran. Sekolah adalah lingkungan khusus yang merupakan sambungan dari lingkungan social yang lebih umu. Sekolah merupakan lembaga masyarakat yang bertugas memilih dan menyederhanakan unsure kebudayaan yang dibutuhkan oleh individu, belajar harus dilakukan oleh siswa secara aktif dengan cara memecahkan masalah.guru harus bertindak sebagai pembimbing dan fasilitator bagi siswa.
Progesivisme atau gerakan pendidikan progresif mengembangkan teori pendidikan yang mendasrkan diri pada beberapa prinsip, antara lain sebagai berikut:
·         Anak harus bebas untuk dapat berkembang secara wajar
·         Pengalaman langsung merupakan cara terbaik untuk merangsang minat belajar.
·         Guru harus menjadi seorang peneliti dan pembimbing kegiatan belajar.
·         Sekolah progresif harus merupakan suatu laboratorium untuk melakukan reformasi pedagogis dan eksperimentasi.
Dengan belajar anak bertumbuh dan berkemabng secara utuh. Karena itu, sekolah tidak mengajar anak melainkan melaksanakan pendidikan. Pendidikan adalah untuk hidup sepanjang hayat. Orang dapat belajar dari hidupnya, bahkan kehidupan itu pendidikan bagi setiap orang.

4.    EKSISTENTIALISME
Eksistensialisme adalah aliran filsafat yang pahamnya berpusat pada manusia individu yang bertanggung jawab atas kemauannya yang bebas tanpa memikirkan secara mendalam mana yang benar dan mana yang tidak benar. Sebenarnya bukannya tidak mengetahui mana yang benar dan mana yang tidak benar, tetapi seorang eksistensialis sadar bahwa kebenaran bersifat relatif, dan karenanya masing-masing individu bebas menentukan sesuatu yang menurutnya benar.
Teori pengetahuan eksistensialisme banyak dipengaruhi oleh filsafat fenomologi,suatu pandangan yang mengambarkan penampakan benda-benda dan peristiwa-peristiwa sebagaimana banda-benda tersebut menampakkan dirinya terhadap kesadaran manusia. Pengetahuan manusia tergantung pada pemahamannya tentang realitas, tergantung pada interpretasi manusia terhadap realitas. Pengetahuan yang diberikan disekolah bukanlah sebagai alat untuk memperoleh pekerjaan atau karir anak, melainkan dapat dijadikan alat perkembangan dan alat pemenuhan diri (Usiono:2006:137).
Eksistensialisme adalah salah satu aliran besar dalam filsafat, khususnya tradisi filsafat Barat. Eksistensialisme mempersoalkan keber-Ada-an manusia, dan keber-Ada-an itu dihadirkan lewat kebebasan. Pertanyaan utama yang berhubungan dengan eksistensialisme adalah melulu soal kebebasan
Namun, menjadi eksistensialis, bukan melulu harus menjadi seorang yang beda-daripada-yang-lain, sadar bahwa keberadaan dunia merupakan sesuatu yang berada di luar kendali manusia, tetapi bukan membuat sesuatu yang unik ataupun yang baru yang menjadi esensi dari eksistensialisme. Membuat sebuah pilihan atas dasar keinginan sendiri, dan sadar akan tanggung jawabnya pada masa depan adalah inti dari eksistensialisme. Sebagai contoh, mau tidak mau kita akan terjun ke berbagai profesi seperti dokter, desainer, insinyur, pebisnis dan sebagainya, tetapi yang dipersoalkan oleh eksistensialisme adalah, apakah kita menjadi dokter atas keinginan orang tua, atau keinginan sendiri.
Kaum eksistensialis menyarankan kita untuk membiarkan apa pun yang akan kita kaji, baik itu benda, perasaaan, pikiran, atau bahkan eksistensi manusia itu sendiri untuk menampakkan dirinya pada kita. Hal ini dapat dilakukan dengan membuka diri terhadap pengalaman, dengan menerimanya, walaupun tidak sesuai dengan filsafat, teori, atau keyakinan kita.[1

5.    REKONTRUKSIONALISME
Kata rekontruksi berasal dari bahasa inggris rekontruct, yang berarti menyusun kembali. Dalam konteks filsafat pendidikan aliran rekontruksionisme merupakan aliran yang berusaha merombak tata susunan kehidupan lama dengan membangun tata susunan hidup kebudayaan modern . aliran rekontruksionalisme pada prinsipnya sepaham dengan aliran prenenialisme, yaotu berawal dari krisis kebudayaan modern. Menurut Muhammad noer dalam  jallaludin dan Abdullah (2011:116) kedua aliran tersebut memandang bahwa keadaan sekarang merupakan zaman yang mempunyai kebudayaan yang terganggu oleh kehancuran, kebingungan, dan kesimpangsiuran.
Meskipun demikian, prinsip yang dimiliki oleh aliran ini tidaklah sma dengan prinsip yang dipegang oleh aliran perenialisme. Keduanya memiliki visi dan cara yang berbeda dalam pemecahan yang akan ditempuh untuk mengembalikan kebudayaan yang serasi dalam kehidupan. Aliran prenenialisme memiliki cara tersendiri, yakni dengan kembali kealam kebudayaan lama yang mereka anggap paling ideal. Sementara itu, aliran rekontruksionalisme menempuhnya dengan jalan berupaya membina suatu consensus yang paling luas dan mengenai tujuan pokok dan tertiggi dalam kehidupan manusia.
Untuk mencapai tujuan tersebut, rekontrusionalsime berupaya mencari kesepakatan antar sesama manusia agar dapat mengatur tata kehidupan manusia dalam suatu tatanan dan seluruh lingkungannya. Aliran rekontruksionalisme berkeyakinan bahwa tugas penyelamatan dunia merupakan tugas seluruh umat manusia. Karenanya, pembinaan kembali daya intelektual dan spiritual yeang sehat melalui pendidikan yang tepat akan membina kembali manusia dengan nilai dan norma yang benar pula demi generasi sekarang dan masa yang akn dating, sehingga terbentuk dunia baru dalam pengawasan umat manusia.
 Mazhab rekontruksionalisme adalah suatu kelanjutan yang logis dari cara berfikir progresif dalam pendidikan. Individu tidak hanya belajar tentang pengalaman dalam masyarakat masa kini di sekolah tetapi  haruslah memelopori maarakat kearah masyarakat yang diinginkan. Dengan demikian, tidak setiap individu dan kelompok akan memecahkan masalah kemasyarakatan secara sendiri-sendiri sebagai ekses progresivisme.
Oleh karena itu, sekolah perlu mengembangkan ideology kemasyarakatan yang demokratis. Keunikan mazhab ini ialah teorinya menganl peranan guru, yakni sebagai pemimpin dalam metode proyek yang memberi kepada anak cukup besar dalam proses pendidikan. Namun sebagai pemimpin penelitian, guru dituntut supaya menguasai sejumlah pengetahuan dan ilmu esensial demi keterarahnya pertumbuhan muridnya.


6.    PEDAGOGI KRITIS
Pedagogi kritis dipahami sebagai teori dan praktik pendidikan yang didesain untuk membangun kesadaran kritis peserta didik. Pedagogi kritis muncul sebagai bentuk perlawanan akan praksis pendidikan yang telah didominasi oleh kekuasaan. Sehingga pendidikan telah direduksi hakikatnya. Pedagogi kritis pada dasarnya dapat dipahami dalam dua makna. Pertama, pedagogi kritis sebagai paradigma berpikir. Dalam hal ini pedagogi kritis dibangun atas dasar critical thingking untuk selalu mempertanyakan dan mengkritisi pendidikan itu sendiri dalam hal-hal fundamental tentang pendidikan baik dalam tataran filosofis, teori, sistem, kebijakan maupun implementasi. Kedua, pedagogi kritis sebagai gerakan sosial.
Tujuan akhir pedagogi kritis adalah melahirkan praksis pendidikan yang egaliter, humanis, demokratis berbasisikan critical thingking di kalangan peserta didiknya. Gerakan sosial yang diusung pedagogi kritis adalah membongkar praktik pendidikan yang membelenggu dan dilakukan kalangan status quo. Pedagogi kritis pada dasarnya muncul karena adanya situasi sosial yang kemudian mempengaruhi praksis pendidikan. Pedagogi kritis berpandangan bahwa pendidikan harus dikembalikan pada hakikatnya, yakni mengembangkan potensi kemanusiaan peserta didik. Sehingga pendidikan tidak dapat diselenggarakan hanya untuk memenuhi kepala peserta didik dengan pengetahuan yang tanpa makna.
Salah satu tokoh yang memberi pengaruh besar bagi perkembangan pedagogi kritis adalah Paulo Freire. Paulo Freire menghabiskan masa kecilnya dalam lingkungan masyarakat yang miskin dan akrab dengan kelaparan, di daerah Recife Brazil. Latar belakang kehidupannya inilah yang kemudian mempengaruhi pemikirannya terhadap penyelenggaraan pendidikan bagi golongan menengah ke bawah.  Melalui pedagogi kritis Freire mengingatkan mengenai hakikat dari pendidikan itu sendiri, yang merupakan upaya memanusiakan manusia. Sehingga melalui pendidikan diharapkan manusia dapat berperan dalam dinamika kehidupan.
Freire mengkritik praksis pendidikan yang tidak sesuai esensi pada saat itu, ia menyebut praksis pendidikan yang dijalankan sebagai, “pendidikan gaya bank”. Hal tersebut bermaksud bahwa kepala peserta didik diibaratkan seperti rekening bank yang siap diisi oleh koin-koin pengetahuan dari guru. Pendidikan diselenggarakan secara konvensional, sehingga kebenaran dari pengetahuan itu hanya ada pada guru. Freire memahami hal tersebut sebagai bentuk penindasan. Karena tidak akan berkembang potensi manusia, jika dalam proses pembelajaran bersifat pasif. Dalam konsep pendidikan gaya bank, pengetahuan merupakan sebuah anugrah yang dihibahkan oleh menganggap diri mereka berpengetahuan kepada mereka yang dianggap tidak berpengetahuan. Gaya bank ini mengingkari pendidikan dan pengetahuan sebagai proses pencarian.   Bagi Freire, pendidikan merupakan sebuah upaya yang memungkinkan seseorang mengubah dinamika sosialnya. Pendidikan sebagai pintu pembuka bagi pengetahuan yang esensi. Bagi Freire, seseorang yang belajar harus mampu membangun kesadaran kritisnya. Kesadaran kritis untuk peka terhadap dinamika masyarakatnya dan dengan pengetahuannya membawa perubahan bagi masyarakat.
Dalam hal ini, Freire membagi kesadaran dalam tiga tahapan, yakni: kesadaran magis, kesadaran naïf dan kesadaran kritis. Kesadaran magis dipahami Freire sebagai kesadaran yang didasarkan pada nilai-nilai agama. Dalam memahami apa yang terjadi, manusia menggunakan penilaian berdasarkan agama. Sehingga apabila terdapat masalah dalam dinamika kehidupan, maka penyelesaiannya dilakukan dengan melaksanakan ritual agama. Namun, pada akhirnya ritual agama ini bergeser menjadi tradisi. Kemudian kesadaran naïf, dipahami bahwa seseorang telah menyadari bahwa dirinya dalam keadaan tertindas atau dalam ketidaknyamanan dan telah mampu melakukan pengajuan namun, pengajuan ini belum sepenuhnya didasarkan pada apa yang sungguh-sungguh dialaminya. Sedangkan kesadaran kritis, merupakan kesadaran yang dimiliki seseorang atau masyarakat bahwa dirinya berada dalam posisi yang tidak menyenangkan dan mampu membentuk kondisi yang memungkinkannya melakukan perubahan atas ketidaknyamanan tersebut. Dalam pengertian lain, kesadaran kritis merupakan kesadaran untuk merubah realitas. 
Untuk mencapai kesadaran kritis maka, Freire menyadarkan penyelenggaraan pendidikan pada pembukaan realitas masyarakat yang terjadi sesungguhnya, kemudian mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan dari masyarakat. Freire menyebut konsep penyelenggaraan pendidikan tersebut sebagai hadap-masalah. Sehingga seseorang yang telah belajar akan mampu memahami realitas sosialnya secara kritis dan dengan pengetahuan yang mendasar tersebut diharapkan akan mampu terbentuk solusi untuk memperbaiki dinamika masyarakat agar lebih berdaya. 
Dengan demikian dipahami bahwa penyelenggaraan pendidikan tidak dapat lepas dari dinamika masyarakat, karena secara hakikat pedagogi kritis meMandang sekolah sebagai lembaga lembaga sosial yang memiliki fungsi dalam dinamika masyarakat. Sekolah dipahami sebagai bentukan masyarakat yang berfungsi dalam mentransformasikan pengetahuan dan kebudayaan pada peseta didik. Sehingga apa yang dipelajari oleh peserta didik tidak terlepas dari pengembangan dinamika masyarakatnya.


7.    PENDIDIKAN SEBAGAI DISIPLIN ILMU
Suatu kawasan studi dapat tampil sebagai disiplin ilmu, bila memenuhi syarat-syarat :

a. Memiliki objek studi (formal dan material)
Objek material ilmu pendidikan adalah perilaku manusia. Objek formalnya adalah menelaah fenomena pendidikan dalam perspektif yang luas dan integrative.

b. Memiliki sistematika
Sistematika ilmu pendidikan dibedakan menjadi 3 bagian yaitu,
1.    Pendidikan sebagai gejala manusiawi, dapat dianalisis yaitu adanya komponen pendidikan yang saling berinteraksi dalam suatu rangkaian keseluruhan untuk mencapai tujuan.
Komponen pendidikan itu adalah :
(a) tujuan pendidikan,
(b) peserta didik,
(c) pendidik,
(d) isi pendidikan,
(e) metode pendidikan,
(f) alat pendidikan,
(g) lingkungan pendidikan.

2.    Pendidikan sebagai upaya sadar untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan manusia. Menurut Noeng Muhadjir sistematika ini bertolak dari fungsi pendidikan, yaitu :
(a) menumbuhkan kreatifitas peserta didik,
(b) menjaga lestarinya nilai insani dan nilai ilahi,
(c) menyiapkan tenaga produktif.

3.    Pendidikan sebagai gejala manusiawi. Menurut Mochtar Buchori ilmu pendidikan mempunyai 3 dimensi :
(1) dimensi lingkungan pendidikan,
(2) dimensi jenis-jenis persoalan pendidikan,
(3) dimensi waktu dan ruang.

c. Memiliki metode
Memliki metode-metode dalam ilmu pendidikan :
  • Metode normative, berkenaan dengan konsep manusiawi yang diidealkan yang ingin dicapai.
  • Metode eksplanatori, berkenaan dengan pertanyaan kondisi, dan kekauatan apa yang membuat suatu proses pendidikan berhasil.
  • Metode teknologis, berkenaan dengan bagaimana melakukannya dalam rangka mencapai tujuan yang diinginkan.
  • Metode deskriptif, fenomenologis mencoba menguraikan kenyataan-kenyataan pendidikan dan lalu mengklasifikasikannya.
  • Metode hermeneutis, untuk memahami kenyataan pendidikan yang konkrit dan historis untuk menjelaskan makna dan struktur dan kegiatan pendidikan.
  • Metode analisis kritis, menganalisis secara kritis tentang istilah, pernyataan, konsep, dan teori yang ada dalam pendidikan.
8.    PENDIDIKAN SEBAGAI OBJEK KAJIAN
Kajian dalam bidang filsafat pendidikan mencakup berbagai aspek yang juga menjadi karakteristik kajian filsafat pada umumnya yang meliputi semua realitas yang wujud maupun yang mumkin al-wujud. Hanya saja, dalam konteks filsafat pendidikan lebih menekankan pada upaya perenungan yang utuh dan terpadu dapat ditemukan kebenaran-kebenaran dan kebijakan-kebijakan yang berguna bagi kemajuan dunia kependidikan itu sendiri. Realitas kependidikan terkait dengan upaya-upaya sistematis dan terprogram untuk menjadikan subjek-subjek didiknya menjadi manusia idaman sebagaimana yang diinginkan. Spirit pendidikan di sini berada pada aktivitas pembelajaran. Kondisi ini meniscayakan filsafat pendidikan pun tentu juga akan mengonsentrasikan dirinya untuk menganalisis berbagai kemungkinan langkah yang dapat ditempuh oleh semua subjek yang terkait agar segala yang diupayakannya benar-benar efektif dan efisien untuk merealisasikan tujuan-tujuan yang diinginkan.
Berdasarkan itu semua, maka realitas-ralitas kependidikan yang menjadi objek kajian filsafat pendidikan antara lain menyangkut hal-hal yang berkenaan dengan :
1.    Hakikat manusia ideal sebagai acuan pokok bagi pengembangan dan penyempurnaan
2.    Pendidikan dan nilai-nilai yang dianut sebagai suatu landasan berpikir dan berbuat dalam tatanan hidup suatu masyarakat
3.    Hakikat tujuan kependidikan sebagai arah bangunpengembangan pola dunia kependidikan.
4.    Hakikat pendidik dan anak didik sebagai subjek-subjek yang terlihat langsung dalam pelaksanaan proses edukasi.
5.    Hakikat pengetahuan dan nilai sebagai aspek penting yang dikembangkan dalam aktivitas pendidikan.


9.    TEORI KONTRUKSI DAN REFORMASI PENDIDIKAN
Reformasi secara etimologi yang berasal dari kata formasi, yang berarti susunan atau bentuk susunan instansi. Pendidikan yaitu pengetahuan tentang mendidik. Nasional yaitu yang berkenaan dengan bangsa sendiri.  Reformasi berarti perubahan radikal untuk perbaikan dalam bidang social, politik atau agama dalam suatu masyarakat atau negara. Pendidikan nasional adalah pendidikan yang beradasarkan pada peraturan negara tersebut, misalkan di negara Indonesia berarti pendidikan nasional Indonesia adalah pendidikan yang berdasarkan pada pancasila dan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia tahun 1945. Jadi reformasi pendidikan nasional adalah perubahan radikal yang ada dalam suatu  instansi pendidikan yang berada dalam naungan suatu negara kebangsaan
 Reformasi pendidikan adalah upaya perbaikan pada bidang pendidikan. Reformasi pendidikan memiliki dua karakteristik dasar yaitu terprogram dan sistemik. Reformsi pendidikan yang terprogram menunjuk pada kurikulum atau program suatu institusi pendidikan. Yang termasuk kedalam reformasi terprogram ini aadalah inovasi. Inovasi adalah memperkenalkan ide baru, metode baru atau sarana baru untuk meningkatkan beberapa aspek dalam proses pendidikan agar terjadi perubahan secara kontras dari sebelumnya dengan maksud-maksud tertentu      yang    ditetapkan.
Sedangkan reformasi sistemik berkaitan dengan adanya hubungan kewenangan dan distribusi serta alokasi sumber daya yang mengontrol sistem pendidikan secara keseluruhan. Hal ini sering kali terjadi di luar sekolah dan berada pada kekuatan social dan politik. Karakteristik reformasi sistemik ini sulit sekali diwujudkan karena menyangkut struktur kekuasaan        yang    ada.
Sementara itu kebijakan adalah suatu ucapan atau tulisan yang memberikan petunjuk umum tentang penetapan ruang lingkup yang memberi batas dan arah umum kepada manajer untuk bergerak. Kebijakan juga berarti suatu keputusan yang luas untuk menjadi patokan dasar bagi pelaksanaan manajemen. Kebijjakan adalah keputusan yang dipikirkan secara matang dan hati-hati oleh pengambil keputusan puncak. Dengan demikian reformasi kebijakan pendidikan adalah upaya perbaikan dalam tataran konsep pendidikan, perundang-undangan, peraturan dan pelaksanaan pendidikan serta menghilangkan praktek-praktek pendidikan dimasa lalu yang tidak sesuai atau kurang baik sehingga segala aspek pendidikan dimasa mendatang menjadi lebih baik.





 DAFTAR PUSTAKA
Usiono, M.A.2006.Pengantar Filsafat pendidikan. Jakarta:Hijri Pustaka.
Tirtarahardja, Umar. La Sulo.2005.Pengantar Pendidikan.Jakarta:Rineka Cipta.
Jalaluddin.,Abdullah Idi.2011.Filsafat Pendidikan.Jakarta:PT  Rajagrafindo Persada.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar