Selasa, 01 September 2020

Korespondensi Kelas X

 

KOMUNIKASI MELALUI TELEPON


1. Pengertian Hubungan Telepon

Hubungan telepon adalah cara mengadakan hubungan langsung jarak jauh untuk menyampaikan dan menerima pembicaraan melalui alat elektronik dari satu pihak kepada pihak lain.

Hubungan dengan telepon termasuk bentuk komunikasi tidak langsung, antara komunikator dengan komunikan secara fisik tidak tatap muka, tetapi diperantarai dengan satu rangakaian elektronik yang disebut pesawat telepon.

 

2. Macam-macam pesawat dan Hubungan Telepon

a Jenis Pesawat Telepon

1.                   INTERKOM

Merupakan alat komunikasi yang dipergunakan untuk menyampaikan warta atau keterangan dalam lingkungan organisasi sendiri dari satu bagian ke bagian lain dalam satu instansi.

 

2.                    PESAWAT TELEPON

Merupakan alat untuk menyampaikan informasi secara lisan dari satu pihak ke pihak lain dari jarak jauh, baik dalam lingkungan kantor maupun luar kantor. Pesawa tunggal maksudnya pesawat telelpon yang bisa digunakan di lingkungan keluarga, organisasi, maupun instansi tertentu. Pesawat ini pun ada dilengakapi dengan pesawat ekstensi(cabang-cabang).

 

3.                     PMBX(PRIVATE MANUAL BRRANCH EXCHANGE)

Jenis pesawat ini tidak memungkinkan kita dapat berhubungan langsung tanpa melalui operator. Untuk menelepon, penelepon harus terlebih dahulu melalui operator, penelepon harus menekan nomor  yang telah ditentukan, setelah menayambung penelepon baru dapat berhubungan langsung dengan nomor telepon luar yang dikehendaki, umumnya menggunkan ekstensi.

4.                    PABX(PRIVATE AUTOMATIC BRANCH EXCHANGE)

Pesawat ini memungkinkan kita dapat berhubungan langsung tanpa melalui oprator. Penelepon dapat berhubungan lansung ke luar dengan cara memutar nomor khusus untuk memperoleh saluran keluar. Setelah itu penelepon baru memutar nomor telepon yang dikehendaki.

 

5.                     SWITCHBOARD (PAPAN SAMBUNG)

Yaitu alat komunikasi yang terdiri dari papan panel yang lebar, yang di dalamnya terdpat saklar-saklar dan istrument yang lain yang berfungsi untuk menyampaikan dari satu tempat ke tempat lain.

 

6.                     LOUDSPEAKING TELEPON (PENGERAS SUARA TELEPON)

Alat ini digunakan untuk memperbesar volume suara telepon. Keuntungan yang diperoleh dengan alat ini yaitu:

¯ Meningkatkan kemampuan kerja

¯ Meningkatkan efesiansi kerja

¯ Menerima teleppon tanpa harus meninggalkan pekerjaan yang ada.

 

7.        TELEPHONE ANSWERING MACHINE(MENSIN PENJAWAB TELEPON

Yaitu suatu alat yang dapat merekam/menjawab setiap pesan (berita) yang masuk.

 

b. Jenis Hubungan Telepon

1.   Hubungan Antar Bagian, yaitu hubungan lansung antara bagian satu dengan bagian lain dalam satu kantor.

2.  Hubungan Local, hubungan yang dilakukan pada satu lingkup daerah tertentu , yakni dalam satu kota. Pada hubungan ini tidak perlu menggunakan kode area tempat yang dituju.

3.   Hubungan Interlokal, hubungan telepon antara dua orang secara lansung dengan jarak jauh, antar kota atau provinsi namun tetap dalam satu Negara.

4.   Hubungan Internasional, yaitu hubungan telepon langsung berjarak jauh dari seseorang atau organisasi di suatu Negara dengan orang lain  atau organisasi Negara yang lain.

 

c. Peletakan Pesawat Telepon

1.      Telepon Meja, yaitu telepon yang diletakkan dan ditempatkan di atas meja.

2.      Telepon Dinding, yaitu telepon yang diletakkan dan ditempatkan pada dinding.

3.      Telepon Mobil, kapal atau pesawat, yakni telepon yang diletakkan pada mobil, pesawat, kapal.

4.      Telepon mobil atau telepon genggam, yakni telepon yang bisa dibawa kemana-mana oleh pemiliknya.

 

d. Cara Kerja Telepon

1. Hubungan Melalui Operator, tekan nomor operator sentral untuk hubungan perorangan, berikan nama dan nomor telepon orang yang akan dihubungi serta nomor pesawat telepon sendiri. Jika sudah berhasil menghubungi nomor yang diinginkan, operator sentral akan meminta hubungan dengan orang yang dikehendaki dan menuggu sampai orang yang dituju siap untuk bicara.

2.  Hubungan Langsung, maksudnya penelepon menelepon sendiri tanpa operator, memutar kode /nomor SLJJ kemudian langsung bicara.

3. Hubungan Langsung dengan SMS, hubungan langsung jarak jauh bahkan melintas batas Negara dengan menggunakan layanan pesan pendek , yang bisa tertulis / melalui suara. Layanan ini banyak digemari karena cepat, murah, sekaligus tertulis sehingga bisa langsung mengingatkan.


 ETIKA PENANGANAN TELEPON

1. Etika Bertelepon

Etika bertelepon yang baik adalah tata pergaulan  yang baik dalam berkomunikasi lisan melalui telepon, yakni berbicara dengan jelas, tegas, terkesan ramah, hangat, bersahabat dan juga tidak emosi. Hal-hal penting etika bertelepon yakni:

·         Jangan biarkan telepon berdering 2-3 kali segera diangkat.

·         Ketika bertelepon di kantor,  jangan membuka pembicaraan dalam menerima telepon dengan sebutan hallo, tetapi sebutkan nama dan perusahaan anda.

·         Jangan gunakan telepon untuk untuk diluar urusan  kantor, kecuali hanya sesekali dan seperlunya.

·         Bisa mendengarkan lawan bicara, dan berkonsentrasi dengan pihak penelepon.

·         Memberikan respon secara cepat dan lugas.

·         Berbicara seperlunya, dengan volume suara  cukup jelas, tegas dan lancar serta hangat dan bersahabat.

·         Menyiapkan perlengkapan seperlunya ketika akan menelepon, seperti nomor telepon yangn dituju, nama jabatan yang dituju, buku catatan dan pensil, serta materi pembicaraan.

·         Ketika bertelepon, tanyakan apakah penerima telepon punya waktu untuk berbicara, jangan menelepon sambil makan dan sejenisnya.

·         Catat poin pesan, minta nomor penelepon, mintalah maaf jika ada kesalahan, dan akhiri pembicaraan dengan ucapan terima kasih, dan letakkan telepon secara pelan.

Hal-hal yang harus dihindari sekretaris dalam komunikasi melalui telepon:

·         Memakai bahasa informal, terutama kepada orang yang belum akrab.

·         Berbicara dengan orang lain selagi berbicara di telepon.

·         Berbicara sambil makan sesuatu  atau mengunyah permen.

·         Berbicara dengan nada kasar atau membentuk

·         Berbicara dengan nada memerintah

·         Penelepon dibiarkan menuggu terlalu lama, tanpa penjelasan, hanya bunyi music yang diperdengarkan.

·         Penelepon ditransfer berkali-kali atau ditransfer ke alamat yang salah.

·         Nada dan intonasi terkesan malas atau tak ramah.


MENERIMA TELEPON

 

1.      Langkah-langkah Dan Teknik Menerima Telepon

a.      a.  Teknik Mengangkat Telepon

Setiap kali telepon bordering harus segera diangkat, jangan sampai dering telepon berbunyi lebih dari 3 kali, sebab akan menggangu suasana kerja.

b.     b.  Menyiapkan buku catatan

Siapkan buku catatan dan alat tulis untuk mencatat hal-hal yang penting.

c.       c. Memberi salam kepada penelepon

Berilah salam sesuai dengan waktu kepada penelpon, kemudian menyebutkan identitas perusahaan tempat kita bekerja.

d.      e. Membuka pembicaraan.

Pada saat menjawab telepon, sekretaris tidak perlu memberikan jawaban yang mendetail, tetapi cukup menginformasikan hal-hal yang inti saja. Sekretaris ditantang untuk menjwab secara diplomatis setiap pembicaraan.

e.      e.  Hubungkan segera penelpon dengan yang dicari

 Yakinkan siapa orang yang akan dihubungi, karena penelpon akan sangat kecewa bila yang dihubungi tidak sesuai dengan yang dikehendaki.

f.     f.   Menciptakan kesan yang baik

Jika Penelpon ingin berbicara langsung dengan atasan perusahaan, jawablah dengan sopan dan lembut. Apabila penelpon bersedia menuggu sebelum disambungkan kepada yang dituju, ucapakan terimakasih atas kesabaran menuggu. Jika orang yang dicari/ diajak bicara oleh si penelpon sedang keluar, penerima telepon harus memberikan keterangan kepada penelpon tentang ketidakhadiran orang yang dicari. Selain itu berusaha untuk mendapatkan keterangan selengkap-lengkapnya tentang identitas penelpon.

g.       h.   Mencatat pesan

1.      Mencatat segala sesuatu yang diperlukan.

2.      Memberikan keterangan yang jelas dan lengkap.

3.      Menanyakan kepada penelpon nama dan nomor teleponnya.

4.      Menghindari kesalahan-kesalahan isi pesan dari si penelpon dengan cara menyebutkan kembali pesan tersebut.

5.      Sampaikan pesan tersebut kepada pihak yang berhak menerima.

Senin, 28 Maret 2016

Fonologi dalam Bahasa Jawa



BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Tanpa disadari peranan Fonologi dalam pembentukan bunyi bahasa sangatlah penting dalam kehidupan sehari-hari. Karena bunyi-bunyi bahasa inilah berserta runtunannya dan segala aturannya yang menjadi objek kajian cabang linguistik yang disebut fonologi-fonetik.
Sedangkan fonemik adalah cabang kajian fonologi yang mengkaji bunyi bahasa dengan memperhatikan fungsinya sebgai pembeda makna atau kata. Fonetik adalah cabang fonologi yang mengkaji bunyi-bunyi bahasa tanpa memperhatikan statusnya, pakah bunyi tersebut dapat membedakan makna atau tidak.
Bahasa jawa dalah bahasa ibu pertama bagi penduduk diprovinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Diluar daerah ini dimana ada etnis Jawa tinggal, diantaranya disebagian provinsi Sumatera Selatan, bahkan diluar Indonesia yaitu Suriname dan Malaysia. Jumlah pemakai bahasa Jawa saat ini lebih dari 60 juta orang.
Bahasa jawa juga merupakan bagian dari bahasa Indonesia. Salah satu bahasa yang unik bagi penuturnya. Keunikan bahasa Jawa menjadi kajian dari fonetik dan disini kami akan membahas tentang fonetik dalam bahasa Jawa. Vokal dan konsonan dalam bahasa Jawa. bagaimana letak perbedaan dengan bahasa indonesia.
Selain itu bahasa Jawa memiliki fonem-fonem yang tidak dimiliki bahasa lain. Itu menjadi perhatian kita bahwa fonem-fonem bahasa Jawa perlu dianalisis lagi sehingga kita menjadi paham akan kekayaan fonem bahasa Jawa.
Kurangnya pengetahuan mengenai fonem-fonem bahasa Jawa, menjadikan penulisan bahasa Jawa cenderung menuliskan kata dari apa yang didengar. Padahal dalam bahas Jawa ada beberapa fonem yang penulisannya tidak sesuai dengan pengucapannya .
Ini terjadi karena adanya pengaruh dari penulisan bahasa Indonesia. Kita menganggap bahwa penulisan bahasa Indonesia sama dengan penulisan bahasa Jawa. Sesungguhnya penulisan bahasa Jawa sangat berbeda dengan bahasa Indonesia.



1.2  Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan fonologi?
2.      Apa yang dimaksud dengan hakikat fonetik dalam bahasa jawa?
3.      Apa yang dimaksud dengan hakikat fonemik dalam bahasa jawa?
4.      Bagaimana pengklasifikasian fonetik dalam bahasa jawa?

1.3  Tujuan
1.3.1        Untuk mengetahui hakikat fonologi, fonetik, dan fonemik.
1.3.2        Untuk mengetahui tentang fonetik dalam bahasa Jawa.
1.3.3        Memahami pembentuk bunyi bahasa yang digunakan dalam bahasa Jawa
1.3.4        Mengetahui pengklasifikasian bunyi bahasa dalam bahasa Jawa



1.4  Manfaat
Makalah ini diharapkan bermanfaat :
1)      untuk mengetahui hakikat fonetik dan fonemik secara umum
2)      untuk mengetahui hakikat fonetik dan fonemik dalam bahasa jawa
3)      mendapat pengklasifikasian fonetik dalam bahasa jawa
4)      mengetahui penerapan fonologi dalam bahasa jawa














BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1  HAKIKAT FONOLOGI
Kurnia (2013 :38)  mengatakan bahwa, fonologi secara etimologi terbentuk dari kata fon yaitu bunyi, logi yaitu ilmu. Menurut hieraki satuan bunyi yang menjadi objek studinya, fonologi dibedakan menjadi fonetik dan fonemik.
Anton (1981:106), perbedaan fonologi yang dapat dicatat setakat ini sekurang-kurangnya mengenai tujuhhal, yaitu :
1.      Alternasi vokal
2.      Alternasi konsonan
3.      Penyederhanaan deret vokal
4.      Penyederhanaan gugus konsonan
5.      Jumlah fonem frikatif
6.      Penyederhanaan diftong
7.      Bentuk hiper baku

Kridalaksana (2002) menjelaskan adalah bidang dalam linguistik yang menyelidiki bunyi-bunyi bahasa menurut fungsinya.  (Chaer , 2009 :1) mengatakan bahwa, fonologi lazim diartikan sebagai bagian dari kajian ilmu linguistik yang mempelajari, membahas, membicarakan, dan menganalisis bunyi-bunyi bahasa yang diproduksi oleh alat-alat ucap manusia. Kemudian yang dikaji ialah bunyi-bunyi bahasa sebagai satuan terecil ujaran beserta gabungan antarbunyi yang membentuk silabel atau suku kata.
Jadi, pada hakikatnya fonologi adalah  ilmu yang mengkaji, menelaah, atau menganalisis secara umum terkait fonologi kebahasaindonesiaan  baik sebagai suatu entitas yang memiliki struktur maupun dalam kaitannya dengan berbagai hal di luar struktur yang perlu dipahami. Fonologi  ialah bidang linguisik atau lmu bahasa yang menyelidiki, mempelajari, menganalisis, dan membicarakan runtutan bunyi-bunyi bahasa yang dihasilkan oleh alat ucap manusia berserta fungsinya.
1.      Fonologi sebagai subdisiplin ilmu yang objek kajiannya adalah unsur bahasa yang terkecil atau bunyi bahasa.
2.      Sebagai suatu disiplin linguistik fonologi memiliki dua cakupan, yaitu :
·         Dalam arti luas, fonologi mencakup bunyi bahasa secara umum, yang mencakup kajian fonetik dan fonemik
·         Dalam arti sempit, fonologi mengkaji bunyi-bunyi bahasa yang berfungsi sebagai pembeda makna.

2.2  HAKIKAT FONETIK
Dalam kurnia (2013 : 3) mengatakan bahwa, fonetik dijelaskan sebagai cabang studi fonologi yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi-bunyi tersebut mempunyai fungsi sebagai pembeda makna atau tidak.
Cf. Malmberg. 1963:1; Verhaar, 1977:12; Ramelan, 1982:3) dalam Marsono (2013), fonetik ialah ilmu yang menyelidiki bunyi bahasa tanpa melihat bunyi itu sebagai pembeda makna dalam suatu bahasa.
Sudarjanto dalam (Marsono), fonetik menyelidiki bunyi bahasa dari sudut tutur ujaran (parole).
Dalam marsono (2013:2), Fonetika memiliki tiga cabang utama:
  • fonetik artikulatoris yang mempelajari posisi dan gerakan bibir, lidah dan organ-organ manusia lainnya yang memproduksi suara atau bunyi bahasa
  • fonetik akustik yang mempelajari gelombang suara dan bagaimana mereka didengarkan oleh telinga manusia
  • fonetik auditori yang mempelajari persepsi bunyi dan terutama bagaimana otak mengolah data yang masuk sebagai suara

Kridalaksana (1984:54), fonetik juga diartikan sebagai ilmu yang menyelidiki penghasilan, penyampaian, dan penerimaan bunyi bahasa, ilmu interdesplinerlinguistik dengan fisika, amnatomi, dan psikologi, fonetik juga diartikan sebagai bunyi bahasa.
Dalam abdul chaer (2013:9), cabang linguitik yang meneliti bunyi-bunyi bahasa tanpa melihat bunyi-bunyi itu dapat membedakan makna atau tidak.
Abdul chaer (2013),  Fonetik adalah ilmu yang mempelajari produksi bunyi bahasa. Ilmu ini berangkat dari teori fisika dasar yang mendeskripsikan bahwa bunyi pada hakikatnya adalah gejala yang timbul akibat adanya benda yang bergetar dan menggetarkan udara di sekelilingnya. Oleh karena bunyi bahasa juga merupakan bunyi, bunyi bahasa tentunya diciptakan dari adanya getaran suatu benda yang menyebabkan udara ikut bergetar. Perbedaan antara bunyi bahasa dengan bunyi lainnya menurut fonetik adalah bunyi bahasa tercipta atas getaran alat-alat ucap manusia sedangkan bunyi biasa tercipta dari getaran benda-benda selain alat ucap manusia.
Jadi pada hakikatnya fonetik adalah cabang fonologi yang mengkaji bagaimana bunyi-bunyi fonem sebuah bahasa direlisasikan atau dilafalkan. Fonetik mempelajari cara bunyi bahasa dihasilkan atau suatu bunyi bahasa diproduksi alat ucap manusia, fonetik juga mempelajari kerja organ tubuh manusia terutama yang berhubungan  dengan penggunaan bahasa.
Namun demikian, pada dasarnya deskripsi bunyi bahasa fonetik ini masih kurang lengkap sehingga akan dilengkapi oleh deskripsi bunyi bahasa menurut fonemik.
Dalam fonetik, bunyi bahasa dianggap setara dengan bunyi, yaitu sebuah gejala fisika yang dapat diamati proses produksinya. Fonetik memang berorientasi dalam deskripsi produksi bunyi bahasa serta cara-cara yang dapat mengubah bunyi bahasa itu dalam produksinya. Oleh karena itu, fonetik bertugas mendeskripsikan bunyi-bunyi bahasa yang terdapat di dalam suatu bahasa.

2.3  HAKIKAT FONEMIK
Dalam kurnia (2013:46) mengatakan bahwa, objek penelitian fonemik fonem yakni bunyi bahasa yang dapat atau berfungsi membedakan makna kata, dan jika tidak membedakan makna berarti bukan fonem.
Abdul chaer (2009:62), fonemik dikatakan mengkaji bunyi dengan memperhatikan statusnya sebagai pembeda makna.
Jadi pada hakikatnya, Fonemik sendiri adalah  ilmu yang mempelajari fungsi bunyi bahasa sebagai pembeda makna. Pada dasarnya, setiap kata atau kalimat yang diucapkan manusia itu berupa runtutan bunyi bahasa. Pengubahan suatu bunyi dalam deretan itu dapat mengakibatkan perubahan makna. Perubahan makna yang dimaksud bisa berganti makna atau kehilangan makna.










BAB 3
HASIL

3.1 Hasil
            3.1.1 Fonetik dalam bahasa jawa
            Cabang studi fonologi yang mempelajari, menyelidiki, dan menganalisis pengahasilan, penyampaianm dan penerimaan bunyi-bunyi ujaran/ bahasa yang dipakai dalam tutur bahasa jawa tanpa memperhatikan fungsinya sebagai pembeda makna dalam bahasa jawa yang melibatkan analisis ilmu fiska dan anatomi dan psikologi.
3.1.2 fonemik dalam bahasa jawa
Fonemik adalah bunyi bahasa yang membedakan makna kata dan arti dalam bahasa jawa.
1.      Fonem vokal
Vokal merupakan bunyi bersuara yang dihasilkan oleh udara yang dikeluarkan dari paru-paru melalui mulut tanpa adanya hambatan.
Fonem vokal dibedakan menjadi 3, yaitu:
1.  Berdasarkan posisi lidah
a. Vokal terbuka, jika lidah berada pada posisi  rendah. Misalnya
   bunyi [a].
b.Vokal madya, jika lidah berada pada posisi tengah. Misalnya
   bunyi [e],[ɛ],[ə],[ɔ], dan[o].
c.Vokal tinggi, jika lidah berada pada posisi atas. Misalnya bunyi   
   [i],[u]

2. Berdasarkan bentuk bibir
a. Vokal bundar, ialah jika bentuk bibir mrmbulat. Contohnya vokal
    [ɔ], [u], dan[o].
b.Vokal tak bundar, ialah jika bentuk bibir melebar. Contohnya pada
    bunyi [e],[ɛ],[i], dan [a].
c.  Vokal netral, ialah jika bentuk bibir tidak bulat dan tidak melebar.
Contohnya adalah vokal [ɑ].
Fonem vokal bahasa jawa tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1)      /i/ adalah vokal tertutup tinggi-kuat depan-takbundar yang dihasilkan dengan posisi lidah bagian depan hampir menyentuh langit-langit dengan kedua bibir agak terentang ke samping.
2)       /e/ adalah vokal agak tertutup sedang kuat depan-takbundar yang dihasilkan dengan daun lidah dinaikkan dan diiringi bentuk bibir yang netral, artinya tdak terentang dan juga tidak membundar.
3)       /ə/ ialah vokal sedang-tengah takbundar atau vokal tengah pende setengah tertutup yang dihasilkan dengan menaikkan bagian tengah lidah dengan bentuk bibir netral.
4)      /a/ ialah vokal terbuka rendah-lemah tengah-takbundar atau vokal tengah pendek setengah terbuka yang dihasilkan dengan biibir netral.
5)       /ͻ/ yaitu vokal agak terbuka sedang-lemah belakang-bundar atau belakang pendek terbuka yang dihasilkan dengan bentuk bibir kurang bundar atu takbundar.
6)       /o/ yaitu vokal agak tertutup sedang-kuat belakang-bundar yang dihasilkan dengan bentuk bibir bundar.
7)      /u/ yaitu vokal tertutup belakang-bundar tinggi-kuat yang dihasilkan dengan meninggalkan bagian belakang lidah dengan posisi kedua bibir agak maju ke depan dan agak membundar.

Macam-macam fonem vokal
1.      Vokal /i/, terdiri dari 2 alofon :
a.        i (i jejeg)
Bunyi [i] dapat menduduki awal, tengah, dan akhir kata. Misalnya ijab,mrica dan tari.
b.      I [I miring]
Terletak pada kata yang diakhiri konsonan. Misalnya pada kata cacing (cacIng), wajik (wajIk)
2.      Vokal /e/
Vokal mempunyai 2 alofon, yaitu:
a.       /e/ (e swara jejeg/ e taling) menduduki semua posisi baik awal, tengah, dan
akhir. Misalnya kata eman ‘sayang’, sela ‘batu’dan gule’gulai’.
b.      /ɛ/ (e swara miring) terletak pada awal dan tengah kata. Misalnya
estu’jadi’, saren ’marus’ dan gepeng ’gapeng’.
3.      Vokal ə
Vokal /ə/ dalam bahasa Jawa bukan merupakan alofon fonem /e/ melainkan merupakan fonem tersendiri karena kedua bunyi itu dalam bahasa Jawa dapat membedakan makna.
Misal:
Kere [ kere] = miskin                    Kere [kəre] = tirai bamboo
Geger [gɛgɛr]= huru hara              geger [ gəgər]= punggung
4.      Vokal /a/
terletak di depan, tengah, dan akhir. Contohnya
Aku            laris                ora               
5.      Vokal /ɔ/
Bukan merupakan alofon dari /o/, namun vokal yang berdiri sendiri. Terletaki awal, tengah, dan akhir kata.
Misal : Amba             rata                 ula
6.      Vokal /o/
Terletak di awal, tengah, akhir kata. Misal : Obah         coba                 kebo
7.      Vokal /u/
Mempunyai 2 alofon, yaitu
·         u (swara jejeg)
Terletak di awal, tengah, dan belakang kata.
Misal: Urip                   wuta              madu
·                         u swara miring
Barada di tengah kata.
Misal : Biyung
 parut               
 pupur

3.2 pembahasan
3.2.1 analisis vocal dalam bahasa jawa
1.       Vokal A
Vocal A dalam bahasa jawa ada dua macam pengucapan jenis huruf vokal "a" yaitu pengucapannya “A” dan vocal “A” diucapkan sebagai huruf "o" seperti pada kata berikut:

Ø  cencang dibaca 'cencang', bermakna : ikat, mengikat
Ø  randa dibaca "rondo" berarti janda dalam bahasa Indonesia
Ø  jaka dibaca "joko" berarti jejaka
Ø  gawa dibaca "gowo" berarti bawa
Ø  waja dibaca "wojo" berarti gigi
Ø  lara dibaca "loro" berarti sakit
Ø  mara dibaca "moro" berarti dating
Ø  lawa dibaca "lowo" berarti kelelawar
Ø  maca dibaca "moco" berarti membaca
Ø  pasa dibaca "poso" berarti puasa
Ø  mrana dibaca "mrono" berarti ke sana
Ø  kana dibaca "kono" berarti sana
Ø  wana dibaca "wono" berarti hutan
pengucapan huruf vokal "a" dibaca sebagai huruf "a" seperti pada kata "papan, wajan".
Ø  gawan dibaca "gawan" berarti bawaan
Ø  sarapan dibaca "sarapan" berarti makan pagi
Ø  bal dibaca "bal" berarti bola
Ø  kapan dibaca "kapan" berarti kata tanya yang menanyakan waktu
Ø  papat dibaca "papat" berarti angka empat
Ø  ora dibaca "ora" berarti tidak
Ø  lawang dibaca "lawang" berarti pintu
Ø  nyawang dibaca "nyawang" berarti melihat
Ø  balang dibaca "balang" berarti lempar
Ø  jaran dibaca “jaran” berarti kuda
Biasanya (sebagian besar) untuk huruf vokal "a" dibaca sebagai "a" terdapat pada kata yang diakhiri konsonan mati. Misalnya, kata "gawan" jika huruf "n" dihilangkan maka akan dibaca "gowo" seperti contoh nomor satu.
2.         Vokal I
Vokal "i" dibaca "i" biasanya teknik pertama ini, huruf vokal "i" tidak diikuti huruf konsonan mati. Berikut ini adalah beberapa contoh kosakata dalam bahasa Jawa yang menggunakan vokal "i" dibaca "i":
Ø  kali dibaca "kali" berarti sungai
Ø  lali dibaca "lali" berarti lupa
Ø  mburi dibaca "mburi" berarti belakang
Ø  iwak dibaca "iwak" berarti ikan
Ø  bali dibaca "bali" berarti kembali
Ø  wedi dibaca "wedi" berarti takut
Ø  wedhi dibaca "wedhi" berarti pasir
Ø  kancil dibaca “k’a cel” berarti kancil
Vokal "i" dibaca "e" biasanya teknik bunyi kedua ini huruf vokal "i" selalu diikuti/diakhiri dengan huruf konsonan mati. Contoh :
Ø  Kuping dibaca "kupeng" berarti telinga
Ø  sikil dibaca "sikel" berarti kaki
Ø  miring dibaca "mireng" berarti condong
Ø  lirih dibaca "lireh" berarti pelan
Ø  kirim dibaca "kirem" berarti hantar
Ø  winih dibaca "wineh" berarti benih
Ø  jirih dibaca "jireh" berarti takut
3.      Vokal u
Dalam bahasa Jawa ada dua macam bunyi untuk bunyi "u”. Pertama  u dibaca u Biasanya bunyi "u" ini diucapkan jika "u" pada suatu kata diikuti akhiran konsonan mati, seperti pada kosakata Jawa berikut ini:
Ø  Tuku                   : Beli
Ø  Turu                    : Tidur
Ø  Wulu                  :  Bulu
Ø  Krungu               :  Mendengar
Ø  Urip                    :  Hidup
Vokal  "u" dibaca seperti huruf "o" jika suatu kata tidak iikuti konsonan mati, seperti kata berikut:
Ø  Mundur         : Mundur
Ø  Nganggur      :  Mengganggur
Ø  Taun              : Tahun
Ø  Tuyul             : Tuyul
Ø  Mung                        : Hanya
Ø  Durung          : Belum
Ø  Bubur            : bubur
4.      Vokal E
Pengucapan bunyi "e" ada tiga (3) macam bentuk teknik pengucapan bunyi untuk "e".
1)      Bunyi "e" ditulis "e" standar berarti Anda membacanya seperti bunyi "e" . Sekarang ucapkan bunyi "e" pada kosa kata berikut ini:
Ø  Edan     : Gila
Ø  Ent k   : Dapat
Ø  Enak      : Sedap
Ø  Eman     : Sayang
Ø   Endah  : Elok

2)      Bunyi "ε". Saya tulis "e" tebal berarti Anda membacanya seperti bunyi "e" pada kata "BELI", BELUM

Ø  Bεras            : beras
Ø  Bεnεr            : Betul
Ø  Sεnεng-        : Senang, gembira
Ø  Kεtan           : nama beras
Ø  Bangεt          : Ungkapan yang menyangatkan seperti kata : akeh banget!
 (banyak sekali!)
Ø  Mlεbu           : masuk
Ø  Mεtu             : keluar
3)      Bunyi "ə " pada kata "SOBEK", TOKEK".
Ø  Kabəh    : semua
Ø  Akəh      : banyak
Ø  Yən        : jika
Ø  Bən        : biar, agar, supaya
Ø  Lərən     : istirahat
5.            Vokal  "o".
1.      Vokal o dalam bahasa jawa ada 2 teknik pengucapan yaitu: bunyi "o"
Ø  Coro          : kecoa
Ø  Ora                        : tidak
Ø  Kanggo     : untuk
Ø  Golək        : cari
Ø  Loro          : dua

2.      Vokal "O".
Biasanya bunyi "o" ini diucapkan jika diikuti akhiran konsonan mati pada suatu kat.
Ø  dulOR                   : saudara
Ø  Lor                                    : utara
Ø  SeparO                  : setengah
Ø  RampŌng              : selesai
3.      Vocal Ō
Ø  Ōpo                       : apa
Ø  CŌpŌt                  : lepas
Ø  CŌlŌng                : curi
Ø  NgŌmŌng            : bicara
Ø  bŌsŌ                     :  bahasa
Ø  WŌng                   : orang
Ø  BawŌn                  :upah panen padi

3.2.2   Analisis Konsonan dalam Bahasa Jawa
1)      konsonan B
Ø  Balong                      : Tulang
Kalong                     : kalung
Ø  Moh                          : tidak mau
Mboh                        : tidak tahu
2)      Konsonan C
Ø  Coro                         : cara
cͻrͻ                           : kecoak
3)      Konsonan D
Ø  Dino             : hari
Cino             : cina
4)      Konsonan G
Ø  Gulo             : gula
Ulo               : ular
5)      Konsonan J
Ø  Jajan             : beli
Ø  Wajan           : tempat menggoreng
6)      Konsonan K
Ø  Ketan           : beras ketan
Etan              : timur
Ø  Jero               : dalam
Jerok             : jeruk
7)      Konsonan L
Ø  Lambe          : bibir
Rambe          : buah rambe
Ø  Numpak       : naik
Numplak      : jatuh
8)      Konsonan M
Ø  Moro                        : datang
Loro             : sakit
9)      Konsonan N
Ø  nŌn  :apa
nŌk  : panggilan untuk anak perempuan
Ø  Nemu                       : dapat
Lemu                        : gemuk
10)  Konsonan R
Ø  Rebo             :hari rabu
Kebo                        : kerbau
11)  konsonan P
Ø  Pentoŋ                      : pukul
 Entok                        : kepompong
Ø  Parang                      : pisau besar
Arang                       : arang
12)  Konsonan S
Ø  Setu                          : hari sabtu
Metu                         : keluar
13)  Konsonan T
Ø  Tarangan                : sarang ayam

14)  Konsonan W
Ø  Wedang                 : minuman
Edaŋ                      : menjenguk
Ø  Walang                  : belalang
Alang                     : rumput liar
15)  ny
Ø  nyoh                       : ini
Ø  bεnyεk                   : becek
Ø  nyɛlɛntik                : sentil
Ø  manyun                  : cemberut
Ø  munyOk                 : kera
Ø  mɛnyat                   : tegak
16)  ng
Ø  ilaŋ                         : hilang
Ø  ana ing                   : ada di
Ø  ngko                       : nanti
Ø  linggoh                   : duduk
Ø  menggko                : nanti
Ø  nggo                       : buat
Ø  munggah                : naik
Ø  ngongkon               : menyuruh

3.2.3        analisis diftong dalam bahasa jawa
1)      Diftong “ai”
Ø  Rai             : wajah
2)      Diftong “ae”
Ø  Kae            : itu
Ø  Wae           : saja
Ø  Jae             : jahe
3)      Diftong au
Ø  Tau            : pernah
Ø  Mau           : tadi
4)      Diftong “oe”
Ø  Koe          : kamu
5)      Diftong ao
Ø  Taon          : tahun
Ø  Raop          : cuci muka
Ø  Laos          : lengkuas
6)      Diftong ue
Ø  Sue            : lama
Ø  Lueh          : lapar
Ø  Cuel           : mengambil sedikit
7)      Diftong ie
Ø  Pie              : bagaimana
Ø  Mbien        : dahulu

3.2.4        analisis klutser dalam bahasa jawa
klutser dalam bahasa jawa  ada beberapa seperti berikut :
1)      nd
Ø  nandi                      : kemana
Ø  ndelek                    : sembunyi
Ø  ndelok                    : melihat
Ø  ndipek                    : duluan
Ø  ndue                       : punya
Ø  ndarak                    : pikir
2)      nr
Ø  nrabas                    : jalan pintas

3)      kr
Ø  krama                     : kramah
Ø  kroto                      : buah melinja yang masih kecil
Ø  krungu                   : dengar
Ø  kringet                   : keringat
Ø  kriteng                   : keriting
4)      sw
Ø  swidak                   : enam puluh
Ø  swiwi                     : sayap ayam
5)      kl
Ø  klopo                     : kelapa
Ø  kloso                      : tikar
6)      dh
Ø  wedhus                  : kambing
Ø  mandhek                : berhenti
Ø  dhangak                 : melihat keatas
7)      th
Ø  munthol                 : ubi jalar
Ø  gɛthok                   : makan dari ubi
8)      dr
Ø  driji                        : jari
Ø  drom                      : tong/kaleng isi minyak
9)      gr
Ø  grojokan                : air terjun yang tidak terlalu tinggi
Ø  graji                       : gergaji
Ø  nggragas                : rakus
10)   gl
Ø  glugu                     : batang kelapa
Ø  glugot                    : jarum kecil yang ada dibatang bambu
11)   mr
Ø  mrico                     : merica
Ø  mriwes                   : burung blibis
12)   br
Ø  sembrono               : sembarangan
Ø  ambrol                   : runtuh
Ø  brotowali               : tanaman pembuat jamu
Ø  mbrobos                 : keluar
Ø  ambrok                  : runtuh
13)   bl
Ø  blulOk                   : kelapa yang masih kecil
Ø  blumbang               : kolam
Ø  blarak                     : daun kelapa
Ø  blas                        : sama sekali
14)   st
Ø  Stang                     : setir
Ø  Strum                     : aliran listrik
15)   Nj
Ø  Njileh                     : meminjam
Ø  Njimok                  : mengambil
Ø  Njitak                    : memikul kepala
Ø  Niwet                    : mencubit
16)   Pl
Ø  Plinteng                 : ketapel
Ø  Keplater                 : terjebak dilumpur
Ø  Pliket                     : lengket
17)  Pr
Ø  Pr ng                     : bambu
Ø  Prenjak                  : sejenis burung
18)  Tr
Ø  Satru                      : berkelahi
19)  Ml 
Ø  Mlaku                    : berjalan
Ø  Mlarat                    : miskin
20)  Mb
Ø  Mburi                     : blakang
Ø  Mbak                     : panggilan kakak perempuan


BAB IV
PENUTUP

4.1       KESIMPULAN
alat ucap manusia, fonetik juga mempelajari kerja organ tubuh manusia terutama yang berhubungan  dengan penggunaan bahasa. Yang dikaji dalam fonetik adalah :
  • fonetik artikulatoris yang mempelajari posisi dan gerakan bibir, lidah dan organ-organ manusia lainnya yang memproduksi suara atau bunyi bahasa
  • fonetik akustik yang mempelajari gelombang suara dan bagaimana mereka didengarkan oleh telinga manusia
  • fonetik auditori yang mempelajari persepsi bunyi dan terutama bagaimana otak mengolah data yang masuk sebagai suara

Fonemik sendiri adalah  ilmu yang mempelajari fungsi bunyi bahasa sebagai pembeda makna kata, dan jika tidak membedakan makna berarti bukan fonem. Hal yang dikaji dalam fonemik adalah fonem.
Hakikat fonetik dalam bahasa jawa adalah mempelajari, menyelidiki, dan menganalisis pengahasilan, penyampaianm dan penerimaan bunyi-bunyi ujaran/ bahasa yang dipakai dalam tutur bahasa jawa tanpa memperhatikan fungsinya sebagai pembeda makna dalam bahasa jawa yang melibatkan analisis ilmu fiska dan anatomi dan psikologi.
Hakikat fonemik dalam bahasa jawa adalah   Fonemik adalah bunyi bahasa yang membedakan makna kata dan arti dalam bahasa jawa.
Kemudian pengklasifikasian fonetik dalam bahasa jawa ada fonem vokal, konsonan, diftong dan kluster yang mengkaji bahasa jawa dalam kehidupan sehari-hari

4.2       SARAN
Penulis berharap penelitian ini dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai Fonetik dan Fonemik dalam bahasa jawa dan dapat memberi ide bagi mahasiswa untuk melakukan penelitian lebih lanjut. Tersusunnya makalah ini masih sangat jauh dari kesempurnaan, namun penulis berharap bahwa di masa yang akan datang makalah ini dapat menjadi inspirasi kepada para pembaca, kshususnya bagi para pembaca yang ingin menganalisis atau meneliti dalam fonetik dan fonemik dalam bahasa jawa.
DAFTAR PUSTAKA

Kurnia. 2013. Fonologi. Palembang.
M. moeliono,anton. 1981. Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Jakarta : Djambatan.
Chaer,abdul. 2009. Fonologi Bahasa Indonesia. Jakarta : PT. Rineka Cipta.
Kushartanti, dkk. 2007. Pesona Bahasa. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Umum.
Kurnia. 2013. Linguistik Umum. Palembang.
Marsono.2013. Fonetik. Yogyakarta :Gajah Mada University Press.
Departement Pendidikan dan Kebudayaan. 1993. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Perum Balai Pustaka.
Hastuti P.H, sri. 1983. Permasalahn dalam Bahasa Indonesia.  Yogyakarta : PT. Intan.
Chaer, Abdul.2003. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.
Verhaar, J.W.M. 2010. Asas-Asas Linguistik Umum. Yogyakarta : Gajah Mada
Universuty Press.
Muslich, Drs. Masnur. 2010. Garis-Garis Besar Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Bandung : Refika Aditama.